Tuliskan review/resensi buku,
Al Tanwir fi Isqath Al Tadbir
karya ulama Sufi Syaikh Ibnu Athoillah,
pada edisi terjemahan "Mengapa Harus Berserah" penerbit Serambi
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah
kepada-Ku" (QS Adz Dzariyat 56)
"Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai kematian menjemputmu" (QS al Hijr 99)
Ibadah adalah bentuk lahir pengabdian dan penghambaan adalah ruhnya. Apabila
kau telah memahami hal ini, ketahuilah bahwa ruh dan hakikat penghambaan adalah
tidak ikut mengatur dan tidak menentang takdir Tuhan.
Penghambaan adalah tidak ikut mengatur dan memilih bersama RububiyahNya.
Penghambaan sebagai kedudukan yang paling mulia hanya bisa dicapai dengan sikap
tidak ikut mengatur.
Jadi seorang hamba semestinya berserah diri sepenuhnya kepada Allah dan terus
berusaha mencapai tingkatan yang paling sempurna dan paling mulia.
Orang yang ikut mengatur bersama Allah adalah seperti anak yang pergi bersama
ayahnya. Keduanya berjalan di malam hari. Karena menyayangi anaknya, sang ayah
senantiasa mengawasi dan memperhatikannya tanpa diketahui sang anak. Anak itu
tidak bisa melihat ayahnya karena malam yang teramat gelap. Ia meresahkan
keadaan dirinya dan tidak tahu apa yang harus diperbuat. Ketika cahaya bulan
menyinari dan ia melihat ayahnya dekat kepadanya, keresahannya sirna. Ia tahu
ayahnya begitu dekat dengannya. Kini ia merasa tidak perlu ikut mengurus
dirinya karena segala sesuatu telah diperhatikan oleh ayahnya.
Seperti itulah orang mengatur untuk dirinya. Ia melakukannya karena berada
dalam kegelapan terputus dari Allah. Ia tidak merasakan kedekatan Allah.
Andaikata bulan tauhid atau mentari makrifat menyinarinya, tentu ia melihat
Tuhan begitu dekat, sehingga ia malu untuk mengatur dirinya dan merasa cukup
dengan pengaturan Allah.
Perumpamaan orang yang mengatur bersama Allah SWT dan orang yang tidak ikut
mengatur adalah seperti dua budak milik seorang majikan.
Budak yang satu sibuk dengan perintah majikan serta tidak memikirkan masalah
pakaian dan makanan. Seluruh perhatiannya terpusat pada upaya untuk mengabdi
kepada majikannya sehingga lupa memerhatikan kepentingan dirinya. Sebaliknya,
budak yang kedua, selalu memerhatikan kebutuhan dirinya. Setiap kali sang
majikan mencarinya, ia sedang mencuci baju, memperbaiki keretanya dan menghias
pakaiannya.
Tentu saja budak yang pertama lebih layak mendapat perhatian sang majikan
daripada budak kedua yang sibuk dengan kepentingan dirinya dan melupakan
kewajibannya. Seorang budak dibeli untuk mengabdi kepada majikan, bukan untuk
memuaskan kepentingan dirinya sendiri.
Orang yang ikut mengatur untuk dirinya adalah seperti orang yang menjual sebuah
rumah. Setelah akad jual beli, si penjual mendatangi si pembeli dan berkata
"jangan membangun apa pun di dalamnya". Tentu saja si pembeli menegurnya, "Kamu
telah menjualnya, dan kini kamu tak punya hak melakukan apapun atasnya, Setelah
akad, kamu tidak boleh ikut campur."
"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin, baik diri maupun harta
mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS At Taubah 111)
Orang beriman harus menyerahkan dirinya kepada Allah beserta segala sesuatu
yang terkait dengan dirinya. Sebab, Allah lah yang menciptakannya dan Dia pula
yang membelinya. Salah satu keniscayaan dari sikap berserah diri adalah tidak
ikut mengatur atas apa yang telah kauserahkan.
Sungguh setan itu tidak akan berpengaruh terhadap orang yang beriman dan
bertawakal kepada Tuhan. Ketahuilah, musuh sejatimu, yaitu setan, akan
senantiasa mengganggumu ketika kau berada dalam keadaan yang Allah tetapkan
untukmu. Kemudian setan membisikkan buruknya keadaan itu sehingga kau
menghendaki keadaan lain diluar yang telah ditetapkan Allah. Akibatnya, kau
selalu gelisah dan hatimu keruh.
Setan akan mendatangi orang bekerja dan mengatakan kepadanya, "Jika kau
meninggalkan pekerjaanmu dan khusyuk beribadah, tentu kau akan mendapatkan
cahaya dan kebeningan hati. Itulah yang dialami si fulan dan si fulan".
Sementara Allah tidak menetapkannya sebagai abid yang melulu beribadah. Ia tak
mampu melakukannya. Kebaikannya hanya ada dalam kerja. Jika ia mengikuti
bisikan setan dan meninggalkan pekerjaannya, imanya akan goyah dan keyakinannya
akan runtuh.
Pada orang yang melulu beribadah, setan mebisikan hasutan yang berbeda,"Sampai
kapan kau enggan bekerja? Jika kau tidak bekerja, kau akan mengharapkan milik
orang lain dan hatimu diliputi ketamakan. Tanpa kerja, kau tidak akan bisa
membantu dan meendahulukan kepentingan orang lain serta tidak akan mampu
menunaikan kewajibanmu. Keluarlah dari keadaanmu yang selalu menunggu pemberian
makhluk. Jika kau bekerja, orang lainlah yang akan menunggu pemberianmu."
Begitulah setan membisikan godaannya.
"Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka
(manusia) tidak ada pilihan" (QS Qashash : 68 )
"Barang siapa bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan memberikan jalan keluar,
dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka. Dan barang siapa yang
bertawakal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya." (QS.
Ath Thalaaq [65]: 2-3 ).
Tujuan setan adalah agar manusia tidak rida atas keadaan yang Allah tetapkan
untuknya. Ia berusaha mengeluarkan mereka dari pilihan Allah menuju pilihan
mereka sendiri.
Ketahuilah, ketika Allah memasukkanmu ke dalam suatu keadaan, Dia pasti akan
selalu membantumu. Namun, jika kau masuk ke dalamnya dengan kemauan sendiri,
Dia akan membiarkanmu.
Allah berfirman, "Katakan, "Wahai Tuhan, masukkanlah aku dengan cara masuk yang
benar dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar, serta berikanlah
kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong" (QS Al-Isra : 80)
Sesungguhnya engkau tidak mengetahui akhir dan akibat dari setiap urusan.
Mungkin kau bisa mengatur dan merancang sebuah urusan yang baik menurutmu.
Tetapi ternyata urusan itu berakibat buruk bagimu. Mungkin ada keuntungan di
balik kesulitan dan sebaliknya, banyak kesulitan di balik keuntungan. Bisa jadi
bahaya datang dari kemudahan dan kemudahan datang dari bahaya.
Mungkin saja anugerah tersimpan dalam ujian dan cobaan tersembunyi dibalik
anugerah. Dan bisa jadi kau mendapatkan manfaat lewat tangan musuh dan binasa
lewat orang yang kau cintai. Orang yang berakal tidak akan ikut mengatur
bersama Allah karena ia tidak mengetahui mana yang berguna dan mana yang
berbahaya bagi dirinya.
Syekh Abu Al Hasan rahimahullah berkata,
"Ya Allah, aku tidak berdaya menolak bahaya dari diri kami meskipun datang dari
arah yang kami ketahui dan dengan cara yang kami ketahui. Lalu, bagaimana kami
mampu menolak bahaya yang datang dari arah dan cara yang kami tidak ketahui?"
Cukuplah untukmu firman Allah,
"Bisa jadi kalian membenci sesuatu padahal ia baik untuk kalian. Bisa jadi
kalian mencintai sesuatu padahal ia buruk untuk kalian. Allah mengetahui,
sementara kalian tidak mengetahui." (QS al Baqarah : 216)
Seringkali kau menginginkan sesuatu, namun Tuhan memalingkannya darimu.
Akibatnya, kau merasa sedih dan terus menginginkannya. Namun, ketika akhir dan
akibat dari apa yang kau hasratkan itu tersingkap, barulah kau menyadari bahwa
Allah SWT melihatmu dengan pandangan yang baik dari arah yang tidak kau
ketahui, dan memilihkan untukmu dari arah yang tidak kau ketahui. Sungguh buruk
seorang hamba yang tidak paham dan tidak pasrah kepadaNya.
Engkau adalah hamba yang selalu Dia pelihara. Seorang hamba tidak boleh ragu
kepada majikannya. Apalagi sang majikan selalu memberi dan tidak pernah
mengabaikan. Inti ibadah adalah percaya kepada Allah dan pasrah kepadaNya.
Sikap itu berlawanan dengan hasrat ikut mengatur dan memilih bersama Allah.
Seorang hamba harus mengabdi kepadaNya, dan Dia akan memberikan karunia
untuknya.
Pahamilah firmanNya, "Perintahkan keluargamu untuk shalat dan bersabarlah
atasnya. Kami tidak meminta rezeki. Kamilah yang memberimu rezeki." "[QS Thaha
: 132]
Artinya, mengabdilah kepada Kami, tentu Kami akan memberikan bagian padamu.
Ayat itu mengandung dua hal, sesuatu yang Allah jamin untukmu sehingga kau
tidak perlu mencarinya dan sesuatu yang diminta darimu sehingga tidak boleh
kamu abaikan.
Kami tidak memintamu untuk memberi rezeki kepada diri dan keluargamu.
Bagaimana mungkin Kami memintamu melakukan hal semacam itu ?!
Bagaimana mungkin Kami membebani kewajiban untuk memberi rezeki kepada dirimu,
sementara kau tidak akan mampu melakukannya ?
Terpujikah Kami jika memerintahkanmu mengabdi, sementara kami tidak memberikan
bagian untukmu?
Orang yang menyibukkan diri dengan sesuatu yang telah dijamin oleh Allah
sehingga lalai dari apa yang diminta, berarti sangat bodoh dan lalai.
Semestinya setiap hamba menyibukkan diri dengan apa yang dituntut darinya tanpa
memikirkan apa yang telah dijamin untuknya.
Allah SWT, memberi rezeki kepada kaum yang membangkang, jadi bagaimana mungkin
Dia tidak memberi kepada kaum yang taat ?
Apabila Dia telah mengalirkan rezekiNya kepada orang kafir, bagaimana mungkin
Dia menahannya untuk orang yang beriman ?
Kau telah mengetahui bahwa dunia telah dijamin untukmu, sedang akhirat diminta
darimu. Kau memiliki akal dan mata hati, jadi kenapa kau arahkan perhatianmu
kepada sesuatu yang telah dijamin untukmu sehingga kau melalaikan kewajibanmu ?
Perumpamaan orang yang sibuk bekerja dan orang yang sibuk beribadah adalah
seperti dua budak satu tuan. Sang tuan berkata kepada salah seorang dari
mereka, "Bekerjalah, dan makanlah dari hasil usahamu."
Kemudian kepada budak satunya ia berkata, "Tetaplah bersamaku dan melayaniku.
Akan kuberikan kepadamu semua kebutuhanmu".
"Siapa yang bersandar kepada Allah, berarti ia telah diberi petunjuk ke jalan
yang lurus" (QS Al Imran : 101 )
"Siapa yang bertawakal kepada Allah, Dia akan mencukupinya" (QS Al Thalaq : 3)
Ketahuilah, sikap tawakal kepada Allah dalam urusan rezeki tidak bertentangan
dengan usaha manusia
Rasulullah SAW bersabda, Karena itu, bertakwalah kepada Allah, dan mintalah
(atau carilah) rezeki dengan cara yang baik."
Rasulullah SAW, membolehkan kita berusaha mencari rezeki. Seandainya usaha atau
bekerja bertentangan dengan tawakal, tentu Rasulullah akan melarangnya.
Rasulullah SAW tidak mengatakan, "Jangan mencari rezeki," namun, "Carilah
rezeki dengan cara yang baik."
Nabi Muhammad SAW membolehkan kita mencari rezeki, karena itu merupakan bagian
dari usaha. Nabi Muhammad SAW bersabda " Makanan yang paling halal dimakan
seseorang adalah yang merupakan hasil usahanya sendiri"
Ketahuilah ada beberapa perwujudan dari sikap mencari rezeki dengan baik.
Berikut beberapa cara sebagaimana yang Allah sampaikan melalui karunia Nya.
1. Cara mencari rezeki yang baik adalah yang tidak melalaikanmu dari Allah
Swt.
2. Cara mencari rezeki yang baik adalah mencarinya kepada Allah Swt, tanpa
menetapkan batasan, sebab, dan waktunya sehingga Dia akan memberikan kepadanya
apa yang Dia kehendaki, dan diwaktu yang Dia kehendaki. Itulah etika meminta
rezeki. Orang yang mencari rezeki seraya menetapkan kadar, sebab dan waktunya
berarti telah mengatur Tuhannya, dan sikap itu menunjukkan kelalaian hatinya.
3. Cara meminta rezeki yang baik adalah memintanya kepada Allah Swt, dan
jangan jadikan apa yang kau inginkan sebagai tujuan doamu. Permintaanmu itu
sesungguhnya hanyalah sarana untuk bermunajat kepada Nya.
4. Cara mencari rezeki yang baik adalah dilakukan dengan penuh kesadaran
bahwa jatahmu telah ditetapkan dan akan mendatangimu, bukan permintaan dan
usahamu yang mengantarkanmu kepadanya
5. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta kepada Allah sesuatu yang
bisa mencukupimu bukan yang melenakanmu. Jangan menghendaki sesuatu secara
berlebihan. Nabi Muhammad SAW , mengajarkan doa yang baik " Ya Allah,
jadikanlah makanan keluarga Muhammad sekedar bisa mencukupi'.
6. Cara meminta rezeki yang baik bisa dengan cara meminta bagian dunianya.
Allah berfirman "dan, diantara mereka ada yang berdoa, Ya Tuhan kami , berilah
kami kebaikan didunia dan kebaikan di akhirat dan lindungilah kami dari azab
neraka" (QS Al Baqarah : 201)
7. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta tanpa meragukan jatah yang
diberikan Allah, serta tetap menjaga diri dari segala sesuatu yang dilarang.
8. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta tanpa menuntut untuk segera
dikabulkan.
9. Cara meminta rezeki yang baik adalah meminta dan bersyukur kepada Allah
jika diberi dan menyadari pilihan terbaik Nya jika tidak diberi.
10. Cara meminta rezeki dengan baik adalah meminta kepada Nya agar kau
berpegang pada pembagian-Nya yang telah ditetapkan, tidak kepada permintaanmu.
Kita menerima apapun ketetapan Allah untuk kita di dunia
dan menjalankan ketetapan secara ikhlas/rido, sabar, istiqomah, profesional dan
tawakal.
Firman Allah,
"Dan Tuhanmu menciptakan dan memilih apa yang Dia kehendaki. Bagi mereka
(manusia) tidak ada pilihan."(QS Qasas :8)
Untuk itulah kita berupaya menjadi muslim yang sholeh, muslim yang berakhlakul
karimah, muslim yang Ihsan (muhsin), muslim yang seolah-olah melihatNya,
minimal muslim yang yakin bahwa Allah melihat kita. Sehingga kita di dunia
dapat bertemu dengan Allah, berinteraksi dengan Allah, dapat mengetahui apa
pilihanNya untuk kita.
Kita akhiri tulisan kali ini dengan sebuah doa berikut,
"Ya Allah, Engkau telah menetapkan untuk kami bagian yang Engkau sampaikan
kepada kami. Maka sampaikanlah kami kepadanya dengan mudah dan tanpa kepenatan,
terjaga dari keterhijaban, diliputi cahaya hubungan dengan-Mu, yang kami
saksikan dari-Mu sehingga kami termasuk golongan yang bersyukur dan
menyandarkan bagian kami itu kepada-Mu, bukan kepada salah satu mahluk-Mu".
Dikutip dari: http://www.mail-archive.com/daarut-tauhiid@yahoogroups.com/msg09037.html
Like this:
Be the first to like this post.
Komentar Terakhir