Bahasa Jawa Dialek Malang Memiliki Keunikan

Pakar bahasa dari Universitas Negeri Malang (UM) Dr Imam Agus Basuki menyatakan, Bahasa Jawa dialek Malang itu sangat unik, karena sangat berbeda dengan kaidah Bahasa Jawa pada umumnya.

“Apalagi kalau kita bandingkan dengan Bahasa Jawa yang digunakan masyarakat Jawa Tengah, bahkan Jawa Timur sendiri. Dialek Malang ini memiliki ciri khas tersendiri dan sangat berbeda dengan bahasa Jawa pada umumnya,” katanya di Malang, Rabu.

Menurut dia, Bahasa Jawa dialek Malang sama sekali tidak terstruktur dan jauh dari kaidah Bahasa Jawa yang standar sehingga menjadi unik dan kadang tidak dimengerti oleh lawan bicaranya.

Ia mengemukakan, setiap kata yang terucap dalam Bahasa Jawa dialek Malang, sebagian besar berakhiran dengan a atau an. Dialek itu akhirnya menjadi ciri khas, bahkan menjadi identitas diri bagi warga Malang.

Selain memiliki dialek yang berbeda dengan bahasa Jawa pada umumnya, kata dosen Fakultas Satra Indonesia UM itu, warga Malang juga memiliki bahasa sendiri yang digunakan dalam lingkup yang lebih kecil, yakni bahasa “walikan” (kata yang dibaca terbalik) yang khas.

Misalnya, kata “tidak” pengucapannya menjadi “kadit” atau bahkan nama kota “Malang” sendiri diucapkan menjadi “Ngalam”.

Ia mengakui, bahasa walikan Malangan itu tidak mudah dimengerti oleh orang dari luar Malang, bahkan orang asli Malang sendiri juga banyak yang tidak memahami bahasa “walikan” itu, sebab selain tidak jelas strukturnya juga jauh menyimpang dari kaidah Bahasa Jawa maupun Bahasa Indonesia pada umumnya.

Bahasa walikan khas Malangan, katanya, tidak hanya sebatas Bahasa Jawa saja yang digunakan, namun juga Bahasa Indonesia seperti “tidak main” menjadi “kadit niam”.

“Bahasa Malangan ini juga tidak hanya sebatas dibalik-balik saja, tapi juga ada kata yang memang khas dan hanya dipahami oleh komunitas tertentu di Malang,” tegasnya.

Ia mencontohkan, beberapa kata yang sama sekali bukan Bahasa Jawa atau Bahasa Indonesia yang dibalik di antaranya adalah “ojir” (uang), “idrek” (kerja), “ebes” (bapak/ayah), “memes” (ibu).

“Bahasa walikan Malangan ini hanya digunakan oleh komunitas tertentu terutama para ’penggila’ bola (Aremania), percakapan anak-anak muda sehingga bisa dikatakan sebagai ’bahasa gaul. Berbeda dengan Bahasa Jawa dialek Malang yang digunakan menyeluruh oleh hampir semua lapisan masyarakat asli Malang,” katanya.

Sumber: http://kompas.com

Categories: Kreativitas | Tags: | 1 Komentar

Navigasi pos

One thought on “Bahasa Jawa Dialek Malang Memiliki Keunikan

  1. djoko rahardjo

    Oyi Sam Agus, ayas itreng. Ayas kera Ngalam sing idrek nok Universitas Negeri Malang. Hamurku nok Celaket gang utas. Ebes nganal karo ebes kodewku genaro Ngalam.

    ‘Iya Mas Agus, saya mengerti. Saya arek (anak) Malang yang bekerja di Universitas Negeri Malang. Rumahku di Celaket gang satu. Bapak dan Ibuku orang Malang’.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: