Kreativitas

Wayang Janur dan Wayang Suket yang Tergeser Mainan Modern

Satu lagi karya anak bangsa yang patut dilestarikan yaitu wayang janur dan wayang rumput (suket, Jawa). Kini wayang janur dan wayang suket telah tergeser kedudukan, karena semakin banyaknya jenis mainan modern yang ada di pasaran.

Konon, wayang janur sudah ada sejak ratusan tahun silam. Pada masa itu, anak-anak berumur sekitar 10 tahun sudah memiliki tanggung jawab untuk bekerja, misalnya menggembala ternak. Sambil bekerja supaya tidak suntuk mereka membuat wayang janur atau wayang suket. Kemudian dimainkan bersama teman-temannya.

Musium Wayang kini telah mengadakan workshop wayang janur dan wayang suket. Kita harus bangga, karena masih ada pihak-pihak yang memperhatikan budaya anak bangsa yang kian hari kian menghilang.  Museum yang terletak di kawasan Kota Tua Jakarta, tepatnya di Jl. Pintu Besar Utara No. 27, Jakarta Barat ini, hampir setiap hari mengadakan workshop wayang janur dan suket kecuali pada hari pagelaran wayang.

Wayang yang biasa dibuat oleh pengunjung Museum Wayang adalah tokoh Pandawa Lima yang terdiri dari; Yudistira, Arjuna, Bima, Nakula, dan Sadewa. Membuat wayang janur dan suket relatif mudah. Bahan bakunya janur, ilalang, mundeng, serai, bambu, lidi, tali, kawat, dan kabel. Janur dan berbagai jenis rerumputan itu didapat dari lahan tidur, sempadan sungai, dan pekarangan rumah yang tak terurus.

Metode pembuatannya sangatlah sederhana, menggunakan sistem tujuh tali. Tali itu sebagai pengikat rangka wayang yang terbuat dari bambu, lidi, kawat, atau kabel. Setelah rangka diikat, kemudian suket dianyam.

Dalam prosesnya, Wayang suket memiliki filosofi kehidupan budaya Jawa. Salah satunya ”Lakuning Urip” (Perjalanan Hidup). Selama menjalani hidup, manusia harus eling (ingat), waspada, tuhu (mencintai sesama), utama (mengutamakan kejujuran), dan narima ing pandum (menerima kenyataan).

Lestarikan karya anak bangsa sebagai wujud akan cinta bangsa Indonesia, serta jadikan ikon penting untuk anak cucu kita kelak.

 

Iklan
Categories: Kreativitas, Tempoe Doeloe | Tag: | Tinggalkan komentar

Membuat Boneka Flanel

Berikut cara pembuatannya:

  1. Sediakan Bahan-bahannya seperti pola, jarum kain flanel, kapas/dakron dan benang sulam
  2. Cetak pola ke kain flanel
  3. Gunting pola
  4. Lalu jahit/sulam aplikasi seperti mata, mulut dll
  5. Satu kan bagian depan dan belakang dengan menggunakan tusuk  feston
  6. Sisa kan sedikit kira-kira 3 cm untuk memasukan bahan isi seperti kapas/dakron/kapuk
  7. Lalu teruskan kembali jahitan (tusuk feston) hingga semua sisi terjahit semua
  8. Pasang aplikasi lainya seperti hidung, ekor atau tali penggantung
  9. Boneka kelinci telah jadi.

Tusuk Faston

Tambahan:

  • jika kita memiliki pola dengan beberapa warna misalnya kelincinya ingin memakai “baju” berbahan flanel warna biru atau matanya menggunakan bahan flanel putih, ditempelkannya saat tahap no.4
  • Boneka bisa saja terdiri dari beberapa bagian misalnya bagian kepala, badan dan kaki ingin terpisah, buat bagian-bagian tersebut hingga selesai dahulu lalu baru gabungkan dengan dijahit.

Selamat berkreasi ya …

Categories: Kreativitas | Tag: | 6 Komentar

Kerajinan Keramik Dinoyo

Indonesia memiliki bahan baku tanah liat melimpah. Setiap daerah pun memiliki karakter khas. Jika tanah liat di Malang akan kecoklatan jika dibakar, tanah liat Jawa Tengah menjadi keabu-abuan.

Pengrajin tanah liat atau biasa kita dengar dengan kerajinan keramik Dinoyo. Dinoyo adalah salah satu nama daerah yang berada di kota Malang. Di daerah inilah kita akan dapat menikmati keindahan berbagai bentuk kerajinan, mulai dari ukuran yang kecil hingga ukuran yang besar pun kita dapatkan di sini, tentunya dengan harga yang berfariasi.

Barang turunan keramik berbahan tanah liat lebih modern dan natural. Tren produk ini pun punya penggemar tersendiri. Apalagi jika benda tersebut fungsional dan simpel seperti tempat lilin, tempat kartu nama, dan lainnya.

Sentra keramik Dinoyo, Malang, sudah eksis sejak 1957. Awalnya lingkungan persawahan ini terbentuk sebagai sentra gerabah dan memproduksi perlengkapan rumah tangga. Melihat perkembangan keramik Cina, pengrajin asal Dinoyo kemudian mengembangkan keramik semi porselen dan namanya terus dikenal hingga kini.

Karakter khas keramik Cendera Mata terletak pada warna dan desain natural. Bentuk dan fungsinya pun bervariasi, seperti vas bunga, tempat garam dan merica, tempat kartu nama, aneka suvenir, wadah aromaterapi, tempat lilin, dan lainnya.

Indahnya budaya Nusantara yang beragam, menjadikan Indonesia bangga akan kekayaan ragam budaya. Lindungi dan lestarikan keindahan budaya, seni, dan kerajinan Indonesia sebagai wujud cinta akan produk Indonesia. Dan jadikan kebanggaan tersendiri akan produk-produk Nusantara.

Categories: Kreativitas | Tag: | Tinggalkan komentar

Blog di WordPress.com.